Dulu, ada jasa pekerjaan yang disebut sebagai ‘juru ketik’. Tidak dapat dibayangkan saat ini, bahwa, kemampuan untuk mengetik sangat terbatas dan kita harus membayar orang lain untuk mengetik, dengan ‘mesin tik’ tentunya. Mahasiswa pada masa itu, menulis makalah/paper dengan tulisan tangan, dan membawa tulisan mereka kepada juru mengetik ini. Kemana jasa mereka saat ini? tentunya sudah punah.
Layaknya seorang juru keti itu, kita sudah dapat membuat tulisan dan komunikasi tertulis dengan baik karena adanya komputer. Kita dapat mengambil foto sendiri, kita dapat mendengarkan lagu dengan perangkat yang ada ditangan kita. Dua ‘kegiatan’ kita sehari-hari yang dulu, memerlukan bantuan orang lain, atau perlu ‘effort’ khusus dari kita.
Perubahan aktivitas tersebut terjadi dengan tiba-tiba. Beberapa tahun silam, software untuk mendesain rumah tinggal masih cukup sulit untuk awam. Dalam waktu dekat kita akan mendapatkan, orang awam pun sudah bisa mendesain dan menciptakan gambar untuk membangunnya, tanpa memerlukan ‘jasa’ kerja dari orang lain.
Namun, seperti profesi fotografer misalnya, yang tidak akan pernah mati adalah keahlian dan pemikiran dari sang fotografer. The professional akan tetap ada dan akan tetap muncul, bukan untuk men’jepret’, tetapi pola pikir kreatif yang menghasilkan foto yang jauh lebih baik dari ‘orang awam.’
Arsitek yang ahli, jago, dan brilian kan tetap diperlukan. “Tukang gambar” akan mati ketika teknologi dapat membuat hal yang sulit menjadi mudah. Arsitek yang baik bukanlah arsitek yang akan tergantikan. Suatu saat nanti, arsitek justru akan menemukan the purest form-nya yang akan menjadikan seorang arsitek yang sesungguhnya. Siapkan diri kita untuk masa itu.