Proyek pertama saya adalah Gedung Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Saat itu, saya baru berusia 24 tahun dan bekerja di konsultan arsitektur Atelier 6 Jakarta. Saya menjadi bagian dari tim masterplan, dan ketika bangunan teater diputuskan sebagai proyek pertama yang akan dibangun, saya mulai mendesainnya.
Proses konseptualisasi memakan waktu sekitar satu tahun hingga mencapai tahap pengembangan desain. Secara total, saya mengerjakan desainnya selama dua tahun, dan pada waktu yang bersamaan, pekerjaan struktur dimulai pada tahun 1995.
Ketika itu, saya memperkirakan proyek ini akan selesai dalam waktu tiga tahun. Namun, sebagai seorang arsitek muda yang belum terbiasa dengan realita dunia arsitektur, saya merasa waktu itu terlalu lama. Saya ingin gedung tersebut segera selesai dan menjadi sesuatu yang bisa saya banggakan. Akan tetapi, pada satu titik, proyek ini memasuki masa review yang terasa sangat membosankan bagi saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti bekerja, dan proyek tersebut dilanjutkan oleh teman-teman di kantor.
Proyek itu tetap berjalan, dan saya berharap pengerjaannya bisa lebih cepat. Namun, waktu terus berlalu. Saya yang sudah tidak berada di Indonesia lagi—bekerja di Singapura, kemudian pindah ke Selandia Baru—hanya bisa menunggu kabar. Hingga lima tahun sejak proyek dimulai, Gedung Teater Jakarta masih belum selesai.
Proyek ini tidak pernah berhenti sepenuhnya, tetapi prosesnya berjalan sangat lambat. Karena saya tidak lagi bekerja di Atelier 6, saya pun tidak tahu persis apa yang terjadi di balik layar. Sementara itu, saya sibuk dengan studio desain saya sendiri dan mulai melupakan proyek pertama saya tersebut. Sampai akhirnya, saya mendengar kabar bahwa gedung ini siap digunakan pada tahun 2010.
15 tahun lamanya saya menunggu karya pertama saya terwujud. Ketika publik melihat gedung tersebut untuk pertama kalinya, mereka tidak tahu bahwa itu adalah desain yang saya buat 15 tahun sebelumnya. Sebagai arsitek muda, saya tidak pernah membayangkan bahwa karya pertama saya akan membutuhkan waktu selama itu untuk menjadi nyata.
Karya-karya di awal karir seorang arsitek sangatlah penting. Mereka menjadi bukti kemampuan kita sebagai seorang arsitek sejati, bukan sekadar pembuat gambar 3D yang indah, tetapi sebagai perancang bangunan yang benar-benar terbangun. Bahkan sebuah rumah sederhana yang berdiri nyata dapat menjadi dorongan besar dalam karir seorang arsitek.
Mungkin pengalaman saya adalah contoh yang ekstrem. Namun, jelas bahwa berkarir sebagai arsitek membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Prosesnya sangat bergantung pada faktor-faktor di luar kendali kita. Menunggu, bertahan, dan terus belajar adalah bagian dari perjalanan panjang seorang arsitek.